Follow me on Blogarama

main-nav-top (Do Not Edit Here!)

Sosialisme Islam Tjokroaminoto

Sosialisme Islam menurut Tjokroaminoto adalah sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, dan bukan sosialisme yang lain, melainkan sosialime yang berdasar kepada azaz-azaz Islam belaka. Baginya, cita-cita sosialisme dalam Islam tidak kurang dari 13 abad umurnya dan tidak ada hubungannya dengan pengaruh bangsa eropa. Azaz-azaz sosialisme Islam telah dikenal dalam pergaulan hidup Islam pada zaman nabi Muhammad SAW.

Islam secara tegas mengharamkan riba (woeker) dan itu artinya Islam menentang keras terhadap kapitalisme. Sebagaimana ditulis Tjokroaminoto dalam bukunya Islam dan Sosialisme ;

“Menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan pekerjaan lain orang, tidak memberikan bahagian keuntungan yang semestinya (dengan seharusnya) kebahagiannya lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan itu,- semua perbuatan yang serupa ini (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan “meerwaarde” (nilai lebih) adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam”

Islam menentang kapitalisme juga terlihat bagaimana konsep muamalah Islam diberlakukan. Ajaran Islam mengajarkan bahwa akan celaka orang yang mengumpulkan harta untuk kesia-siaan. Dalam muamalah Islam kata Tjokroaminoto, praktek yang mengarah pada penimbunan dan penumpukan modal dan barang adalah dilarang. Termasuk Islam melarang keras praktek riba karena dianggap benih kapitalisme yang menurut pendapat Karl Marx disebut sebagai meerwarde.

Azaz penting menurut Tjokroaminoto mengapa Nabi Muhammad gigih memperjuangkan Sosialisme Islam karena Islam mengajarkan sebesar-besarnya keselamatan hendaknya menjadi bahagiannya sebanyak-banyaknya manusia, dan keperluannya seseorang hendaknya bertakluk kepada keperluannya orang banyak. Termasuk pencapaian rahmatan lil alamien yang menjadi misi kerosulan Nabi Muhammad adalah ingin meletakkan semangat keadilan dan kemanusiaan yang meniscayakan hadirnya sistem yang mensejahterakan.

Maka kalau ditelaah lebih jauh pemikiran diatas bahwa sebenarnya semangat perjuangan Tjokroaminoto adalah ingin meletakkan Islam sebagai unsur fundamental untuk membebaskan rakyat dari kesewenang-wenangan rezim Kolonial Belanda. Sosialisme Islam baginya adalah ruh pembebasan manusia dari pemiskinan yang digerakkan oleh sistem. Perlawanan terhadap sistem yang tidak berkeadilan beliau letakkan sebagai misi kenabian sebagaimana ajaran Nabi Muhammad.

Bagi Tjokroaminoto, dasar sosialisme Islam adalah ajaran Nabi Muhammad tentang kemajuan budi pekerti rakyat. Sehingga Tjokroaminoto membagi anasir sosialisme Islam pada tiga anasir, pertama, kemerdekaan (vrijheid-liberty). Kedua, persamaan (gelijk-heid-eguality), dan ketiga, persaudaraan (broederschap-fraternity).

Bagi Tjokroaminoto, Islam adalah sesuatu yang harus di perjuangkan dan di persatukan, sebagai dasar kebangsaan yang hendak di proses menuju Indonesia. Tipikal Tjokroaminoto, identik dengan AI-Afghani yang juga merupakan tokoh politik Pan-Islamisme (kebangkitan Islam). Tjokroaminoto dan Afghani juga sama-sama mengalami kegagalan dalam perjuangan Pan-Islamismenya. Namun, arti penting keduanya bukan pada kemenangan atau kekalahan. Keduanya menjadi penting karena menggulirkan momentum perubahan pemikiran dalam Islam. Keduanya juga menjadi ruh perjuangan bagi kepentingan politik Islam.

Ruh Tjokroaminoto akan masih terus bergerak menjadi spirit perjuangan ketika Islam di artikulasikan sebagai penggerak yang aktif, tidak statis. Yang mengatakan ,” Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”. Beliau wafat pada tanggal 17 Desember 1934 di Yogyakarta, dan dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta.

Tjokroaminoto adalah generasi pertama pemimpin pergerakan. Tjokroaminoto juga jurnalis dan orator ulung. Figurnya penting karena dialah yang menciptakan standar bagaimana seharusnya seorang pemimpin pergerakan. Sebagai orator ulung, Tjokro dikaruniai suara bariton yang mantap sehingga dapat didengar ribuan pendengarnya tanpa pengeras suara, ia pembicara yang menarik dan bersemangat. Bicaranya lempeng, lurus dan tegas. Ia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jawa dan Melayu. “Pidatonya membawa khalayak menjadi gefascineerd, mabuk tergila-gila. Meski demikian, pidato Tjokroaminoto disebut-sebut tak mengandung humor.

Tjokroaminoto ingin membumikan perjuangan bersandar pada Islam sebagai basis ideologi. Kehadiran Tjokroaminoto mengusung konsep Islam membuat Sarekat Islam melaju menjadi kekuatan politik ideologis. Gerakan Tjokroaminoto sangat mendominasi Sarekat Islam. Semua landasan perjuangan Tjokroaminoto dan Sarekat Islam tertuang dalam buku Reglement Umum bagi Umat Islam, Culture dan Adat Islam, Tafsir Program Azas dan Program Tandhim.

Menurut Tjokroaminoto, kaum muslimin harus dididik menjadi muslim sejati untuk mencapai cita-cita kemerdekaan umat. Dalam tulisan yang dimuat di Sendjata Pemoeda, surat kabar pemuda PSII, Tjokroaminoto menegaskan : Keutamaan, kebesaran, kemuliaan, dan keberanian bisa tercapai lewat ilmu tauhid, ilmu tentang ketuhanan.

Dalam surat Dr. GAJ Hazeau, Pejabat Penasehat Kantor Urusan Bumiputra, tanggal 29 September 1916, yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, berkenaan dengan selesainya Kongres Nasional Pertama Sentral Serikat Islam, yang diadakan di Bandung, tanggal 17-24 Juni 1916, dapat diambil beberapa kesimpulan:

  1. Bahwa Sarikat Islam adalah penjelmaan kesadaran rakyat
  2. Bahwa pribumi (Inlanders) tidak suka lagi dipandang sebagai “manusia setengah atau seperempat”, tapi menuntut dihormati sebagai ‘warga Negara bebas” tanah airnya
  3. Bahwa kebangkitan Islam itu tampak juga pada gejala lahir, seperti pakaian, cara-cara bercakap, adat istiadat sehari-hari dan sebagainya.


Peran Tjokro didalam SI semakin lama semakin berkembang. Setelah mendapat tugas untuk merubah anggaran dasar SI dan menjadi komisaris, Tjokro kemudian berhasil menggeser Samanhoedi sebagai ketua Si dalam pertemuan di Yogyakarta 18 Februari 1914. Dalam kepemimpinan Tjokro, SI dibawa ke level nasional dengan merubah kembali anggaran dasarnya pada 26 Juli1915 dan tak sampai satu tahun pemerintah Belanda mengakui kepengurusan Central sarekat Islam yang dipimpin Tjokromainoto. SI kepemimpinan Tjokro merubah peregerakan SI yang sebelumnya sebagai organisasi dagang menjadi organisasi yang bergerak dibidang politik.

Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Sosialisme Islam Tjokroaminoto"